Mahasiswa‎ > ‎Akuntansi Manajemen‎ > ‎

IMPLEMENTASI SISTEM ABC DENGAN PENDEKATAN KONTIJENSI

PENILAIAN KELAYAKAN IMPLEMENTASI SISTEM ACTIVITY BASED COSTING (ABC) DENGAN PENDEKATAN KONTIJENSI

Moh. Mahsun, M.Si, Ak.

 

ABSTRAKSI

            Munculnya sebuah konsep baru yang memberi kesan modern cenderung dipandang sebagai pengganti konsep lama. Banyak perusahaan segera mengadopsi konsep baru tersebut tanpa mempertimbangkan kelayakannya. Pendekatan kontijensi membantu perusahaan menganalisis kondisi kelayakan implementasi ABC. Pendekatan ini bisa diterapkan baik di perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa. Tulisan ini adalah untuk menggambarkan penerapan pendekatan kontijensi dalam menganalisis kondisi kelayakan penerapan ABC di perusahaan. Grafik kontijensi membantu interpretasi atas hasil analisis ini.

 

PENDAHULUAN

Kecenderungan beberapa perusahaan untuk langsung mengadopsi konsep baru terjadi di Amerika pada sekitar tahun 1980. Banyak perusahaan yang frustrasi karena kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan Jepang. Pada masa itu berbagai sekolah bisnis, konsultan, guru dan para praktisi membicarakan tentang kompetisi. Perkembangan perusahaan-perusahaan Jepang yang pesat mampu menurunkan kepercayaan diri mereka. Konsep-konsep baru dibahas dan dipopulerkan dengan nama-nama yang menarik, seperti konsep total quality management (TQM), customer satisfaction, benchmarking, continuous improvement, activity based costing (ABC) dan sebagainya. Namun sebagian besar perusahaan ternyata mengalami penurunan market share pada periode tahun 1980 sampai 1990 jika dibandingkan periode tahun 1970 sampai 1980. Hal ini membuktikan bahwa tidak semua konsep baru layak untuk segera diadopsi. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan sebelum perusahaan memutuskan untuk menerapkan konsep baru.

            Di Indonesia munculnya konsep-konsep baru ini banyak dibahas terutama di lingkungan akademis dan perusahaan-perusahaan besar. Pembahasan di lingkungan akademis bisa dilihat dari banyaknya artikel, skripsi, tesis dan tulisan ilmiah lainnya yang mengangkat topik ABC sebagai tema utama. Bahkan beberapa skripsi hasil penelitian sering menyarankan kepada perusahaan untuk segera mengganti akuntansi tradisionalnya dengan sistem ABC agar tidak kalah dalam persaingan. Asumsi yang berkembang menyatakan bahwa ABC merupakan konsep terbaik dalam menghadapi kompetisi yang mengungguli akuntansi tradisional.

 

PEMBAHASAN

              ABC banyak diyakini cocok diterapkan pada perusahaan yang mempunyai product diversity tinggi. Sistem akuntansi biaya tradisional tidak dapat menjelaskan faktor penyebab peningkatan biaya-biaya produksi dengan semakin beragamnya output. Sistem ini dianggap gagal mengalokasikan biaya-biaya yang timbul pada masing-masing produk dengan akurat sehingga menyebabkan terjadinya distorsi biaya.

Sistem ABC beranggapan bahwa timbulnya biaya disebabkan oleh adanya aktivitas-aktivitas. Untuk menghilangkan distorsi dalam pengalokasian biaya produk, ABC menggunakan cost drivers berdasarkan pada aktivitas yang memicu biaya tersebut. Asumsi teoritis ini banyak dijadikan alasan untuk menerapkan ABCtanpa memperhitungkan faktor lain yang komprehensif. Berikut ini akan dibahas analisis mendalam terhadap kelayakan ABC diterapkan di perusahaan berdasarkan pendekatan kontijensi.

 

IMPLEMENTASI KELAYAKAN ABC DENGAN PENDEKATAN KONTIJENSI

            Dalam mengadopsi konsep ABC seharusnya perusahaan tidak semata-mata berpedoman pada asumsi teoritis. Kondisi kelayakan perusahaan harus diidentifikasi dengan cermat. Pendekatan kontijensi bisa digunakan untuk mengidentifikasi kondisi kelayakan perusahaan menerapkan ABC.

            Pengidentifikasian kondisi kelayakan perusahaan ini dimulai dengan melakukan analisis terhadap tingkat signifikansi informasi biaya yang dihasilkan dari sistem ABC dan pengaruh informasi biaya tersebut terhadap pengambilan keputusan manajemen. Analisis ini diperlukan untuk mengetahui seberapa material informasi biaya sistem ABC  dibandingkan dengan sistem akuntansi tradisional mempengaruhi pengambilan keputusan manajemen. Jika informasi baru ini mampu mengubah pengambilan keputusan manajemen  berarti mengindikasikan perlunya perubahan sistem akuntansi tradisional menjadi sistem ABC.

            Menurut Estrin [1997, hal.103] analisis untuk mengetahui kondisi kelayakan perusahaan bisa dilakukan dengan mengidentifikasi 10 faktor. Lima faktor menunjukkan tingkat kecenderungan manajemen terjadinya distorsi biaya dan lima faktor yang lain menunjukkan tingkat kecenderungan manajemen menggunakan informasi biaya dalam pengambilan keputusan. Lima faktor pertama meliputi product diversity, support diversity, common processes, period cost allocation dan rate of growth of period costs. Lima faktor kedua meliputi pricing freedom, period expense ratio, strategic considerations, cost reduction effort dan analysis of frequency.

            Product diversity menunjukkan jumlah dan keanekaragaman product families yang ditawarkan. Support diversity menunjukkan jumlah dan keanekaragaman aktivitas yang mengakibatkan tingginya pengeluaran overhead cost. Common processes menunjukkan tinggi rendahnya tingkat kegiatan yang dilakukan secara bersama untuk menghasilkan produk-produk tertentu sehingga biaya periode masing-masing produk sulit dipisahkan. Kegiatan bersama tersebut misalnya kegiatan manufacturing, engineering, marketing, distribution, accounting, material handling dan sebagainya. Period cost allocation menunjukkan kemampuan sistem akuntansi biaya yang ada mengalokasikan biaya periode secara akurat. Rate of growth of period costs menunjukkan tingkat kecepatan peningkatan biaya periode sepanjang tahun.

            Pricing freedom menunjukkan tingkat independensi perusahaan dalam menentukan harga sehingga menghasilkan product profitability. Period expense ratio menunjukkan kemungkinan terjadinya distorsi biaya produk secara material. Strategic considerations menunjukkan seberapa penting informasi biaya dimanfaatkan dalam proses pengambilan keputusan manajemen. Cost reduction effort menggambarkan seberapa penting akurasi pelaporan alokasi biaya periode untuk pengambilan keputusan internal manajemen. Analysis of frequency menunjukkan tinggi rendahnya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan analisis biaya produk.

 

PLOTTING HASIL ANALISIS KE DALAM GRAFIK KONTIJENSI

            Grafik kontijensi merupakan grafik yang digunakan untuk plotting hasil analisis terhadap 10 variabel kondisi kelayakan perusahaan mengimplementasikan ABC sebagaimana diuraikan di atas. Grafik kontijensi ditunjukkan pada gambar di bawah. Sumbu x merepresentasikan tingkat kecenderungan manajemen untuk menggunakan informasi biaya dalam pengambilan keputusan yang ditunjukkan oleh variabel indikator pricing freedom, period expense ratio, strategic considerations, cost reduction effort dan analysis of frequency. Sumbu y merepresentasikan tingkat kecenderungan terjadinya distorsi biaya yang ditunjukkan oleh variabel indikator product diversity, support diversity, common processes, period cost allocation dan rate of growth of period costs. Masing-masing variabel indikator dinilai pada skala negatif lima sampai positif lima dan dilakukan plotting sehingga dihasilkan titik-titik yang terletak dalam kuadran tertentu. Titik-titik hasil plotting tersebut kemungkinan berada di kuadran I, II, III atau IV.


                                                            

 

                         Gambar grafik kontijensi

 

MEMBUAT SIMPULAN HASIL PLOTTING

            Hasil plotting variabel indikator tersebut dianalisis dan kemudian dilakukan interpretasi. Jika hasil plotting berada pada kuadran I (K1) menunjukkan kondisi perusahaan menghadapi distorsi biaya produk dan manajemen cenderung memanfaatkan informasi biaya untuk pengambilan keputusan. Kondisi seperti ini sangat memungkinkan diterapkan ABC.

            Jika hasil plotting berada di kuadran II (K2) menunjukkan bahwa meskipun manajemen cenderung memanfaatkan informasi biaya untuk pengambilan keputusan namun informasi biaya yang ada tidak mengalami distorsi yang cukup material. Dengan demikian ABC belum layak diterapkan karena tidak banyak manfaat langsung atas penerapan ABC ini. Dalam kondisi seperti ini seharusnya selalu dimonitor jika pada suatu saat terjadi perubahan atas variabel-variabel yang menyebabkan terjadinya distorsi biaya.

            Hasil plotting yang berada di kuadran III (K3) menunjukkan kondisi perusahaan yang tidak mengalami distorsi biaya dan manajemen tidak memanfaatkan informasi biaya untuk sebagian besar keputusannya. Dalam kondisi seperti ini perusahaan sama sekali tidak layak menerapkan ABC. Penerapan ABC yang dipaksakan dalam kondisi ini merupakan keputusan yang ceroboh karena tidak memperhitungkan antara biaya dan manfaatnya.

            Jika hasil plotting berada di kuadran IV (K4) menunjukkan kondisi perusahaan yang menghadapi distorsi biaya tetapi manajemen cenderung tidak memanfaatkan informasi biaya tersebut untuk pengambilan keputusannya. Dalam kondisi seperti ini ABC juga belum layak diterapkan. Hal ini karena informasi biaya tersebut tidak mempengaruhi dan tidak mengubah keputusan manajemen meskipun mengalami distorsi. Dalam jangka panjang informasi biaya kemungkinan menjadi material bagi keputusan manajemen sehingga kondisi ini harus selalu dieavaluasi.

 

MEMPERTIMBANGKAN KELAYAKAN PENERAPAN ABC DI PERUSAHAAN JASA

Pada umumnya ABC dipertimbangkan untuk diterapkan pada perusahaan manufaktur. Hal ini bukan berarti ABC tidak mungkin diterapkan di perusahaan jasa. Meskipun karakteristik perusahaan jasa berbeda dengan perusahaan  manufaktur keduanya menghadapi permasalahan yang sama antara lain tingginya product diversity dan kompleksitas kegiatan. Menurut Rotch [1997, hal.109] perbedaan yang paling menonjol antara perusahaan jasa dengan perusahaan manufaktur terletak pada output. Dalam hal ini output perusahaan jasa lebih sulit didefinisikan daripada output perusahaan manufaktur karena bersifat intangible. Output perusahaan jasa sering dideskripsikan sebagai sebuah paket dari manfaat jasa yang dihasilkan perusahaan seperti kecepatan pelayanan, kepuasan pelanggan, kualitas informasi yang disediakan dan sebagainya. Sifat output seperti ini mengakibatkan proses penentuan harga menjadi lebih sulit. Berdasarkan kesamaan permasalahan yang dihadapi dengan perusahaan manufaktur maka dalam mempertimbangkan penerapan ABC di perusahaan jasa juga harus mempertimbangkan banyak faktor. Indikator-indikator kondisi kelayakan perusahaan sebagaimana dirumuskan dalam pendekatan kontijensi bisa membantu perusahaan jasa menganalisis kelayakan penerapan ABC. Kondisi perusahaan jasa diindentifikasi sedemikian rupa sehingga diketahui tingkat distorsi biaya yang terjadi dan tingkat kecenderungan manajemen dalam memanfaatkan informasi biaya untuk pengambilan keputusannya.

 

PENUTUP

            Tidak semua konsep baru lebih baik dan lebih layak dibandingkan konsep yang sudah ada. ABC yang dikenal sebagai konsep baru pun tidak menghasilkan manfaat banyak bahkan masih lebih layak menggunakan akuntansi konvensional. Hal ini terutama jika kondisi perusahaan tidak mengalami distorsi biaya dan informasi biaya tidak material untuk pengambilan keputusan manajemen. Penerapan ABC dalam kondisi perusahaan seperti ini menggambarkan perusahaan tidak mempertimbangkan secara matang. Dasar pemikiran yang tidak masuk akal adalah agar perusahaan dicap sebagai perusahaan yang tidak ketinggalan jaman sehingga mengadopsi ABC tanpa analisis yang mendalam. Pendekatan kontijensi sangat membantu mengidentifikasi kondisi kelayakan perusahaan menerapkan ABC.  

            Sebuah konsep baru yang muncul dari negara tertentu membutuhkan penyesuaian-penyesuaian jika akan diterapkan di negara atau kawasan lain. Hal ini terjadi karena kondisi dan lingkungan sangat mempengaruhi kelayakan penerapan konsep baru tersebut. Penyesuaian terhadap kondisi dan lingkungan ini bisa dilakukan dengan memodifikasi dan menggabungkan dengan konsep yang sudah ada. Model dasar bisa diperluas sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu model tertentu yang lebih layak dan bermanfaat.


DAFTAR PUSTAKA

 

Estrin, T.L., Jeffrey Kantor, dan David Albers “Is ABC Suitable for Your Company?.” Dalam Readings in Management Accounting. Ed. S. Mark Young. New Jersey: Prentice Hall, Inc.: 1997.

 

Hirsch, Maurice L. Jr.. Advanced Management Accounting. Second Edition. Cincinnati: South-Western Publishing Co., 1994.

 

Innes, John dan Falconer “Activity Based Costing.” Dalam Issues in Management Accounting. Ed. David Ashton, Trevor Hopper, dan Robert W. Scapens. Second Edition. New Jersey: Prentice Hall, Inc.: 1995.

 

Moeliono, Anton M. dan Soenjono Dardjowidjojo. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Pertama. Jakarta: Perum Pustaka, 1988.

 

Rotch, William “Activity Based Costing in Service Industries.” Dalam Readings in Management Accounting. Ed. S. Mark Young. New Jersey: Prentice Hall, Inc.: 1997.

 

Suadi, Arif. Format Skripsi Berbasis Komputer. Edisi Pertama. Yogyakarta: Badan Penerbit Fakultas Ekonomi, 1995.

           

 Sumber: http://jsa-akuntan.com/content/view/48/38/

Comments